Oktober 2010 merupakan salah satu bulan yang paling tidak kusukai selain Januari dan Februari karena saat-saat itu selalu diganggu oleh auditor. (aduh, waktu gw sendiri jadi auditor kayanya juga dikutuk terus sama klien, huhuhuhu....). Nah, dibulan itu biasanya selalu ada kegiatan rekonsiliasi di Lembang.
Saat itu kira2 menunjukkan pukul 6 sore, aku bersama Yogi (salah satu teman kantor) turun ke Bandung untuk meeting khusus dengan salah seorang tamu dari induk perusahaan di sebuah kafe yang aku sendiri sudah lupa namanya. Kafe tersebut memang dibuat bernuansa remang2 dengan sofa, furniture dan lampu bernuansa coklat.
Setelah jamuan makan malam, barulah kami bertiga memulai meeting di sofa. Baru juga duduk, Yogi langsung menawarkan dessert tiramisu. Awalnya aku menolak karena kekenyangan (eh, ini gw beneran kenyang lho, wkwkwkwkw.....*tumben*), tetapi karena dipaksa terus, akhirnya aku mengalah juga. Namun kami hanya memesan dua gelas saja karena aku dan Yogi akan saling share.
Singkat cerita, tiramisu itu datang ke meja. Dan sepengelihatan aku, waiter-nya juga turut membawa semacam botol kecil yang kukira adalah botol bubuk. Meeting berjalan lancar, sementara aku tidak konsentrasi karena melihat tiramisu yang begitu menggoda. Hahahhahaha.....Akhirnya aku memberanikan diri untuk mengambilnya sementara mereka asik berbincang-bincang. (yang sebenarnya keasikan itu aku atau mereka yah?? Hehheeh....)
Entah mengapa, tiba2 aku melihat botol bubuk itu dan langsung berpikir untuk menaburnya diatas tiramisu. “ Hmmm....kayanya enak nih tiramisu pake bubuk coklat....”. Langsung saja aku menyambar bubuk tersebut dan menaburnya diatas tiramisu. Agak susah keluar, tapi dengan semangat aku terus menaburnya. “Kelihatannya enak nih...tapi kok warnanya agak berkristal2 putih yah? (maklum saat itu memang lampunya remang2). Ah sudahlah, yg penting enak”. Begitu kumakan, rasanya agak sedikit berbeda dari tiramisu yang biasa kumakan. Karena merasa masih kurang, aku tambah lagi yang banyak bubuk tersebut. *sibuk banget yah saya sampe bener2 tidak memperhatikan meeting yang sesungguhnya*.
Namun rasanya bubuk itu makin kuat sehingga rasa tiramisunya menjadi kurang berasa. Aku makan sampai separuh gelas, lalu kemudian baru mulai mengikuti meetingnya. Saya baru mau mulai konsentrasi, Yogi malah menawarkan tamu untuk segera makan tiramisu. *makan lagi deh...bukan salah saya lho...yg ajak makan lagi kan si Yogi.hihihihi....*.
Baru 2 sendok Yogi makan, tiba2 dia berkata,
Yogi (Y) : “Win, ini beneran tiramisu? Kok rasanya aneh bgt..asin.....”
Aku (E) : “Masa? Hmm..iya sih....padahal tadi gw udah tambahin bubuk coklat yang banyak lho”
Y : “Bubuk coklat?? Mana?”
E : “Itu dimeja...”
Beberapa saat kemudian, Yogi langusung batuk2 keras sambil marah tapi setengah tertawa....
Y : “Win...GILA lu yah!!! Itukan bubuk GARAM!!!! Masa u bilang coklat!!! Wah parah bgt u!!”
E : *terbengong.......ha???!!!*
Y : “Ya pantesan aja jadi asin. Gimana sih lu....hhahahahahahaahah.....”
Yogi dan tamu dari induk perusahaan tertawa terbahak-bahak tiada henti. Sementara mukaku langung merah. *malunya aku karena ada tamu itu*
E : “ Aduh maaf, abisnya suasananya remang2 gini sih...Makanya semua jadi terlihat serba coklat. Lagian kayanya waiter-nya yang bawain itu bubuk sambil mengantar tiramisu”
Y : “ Kagak...bubuknya udah dari tadi di meja....Lagian mana ada sih makan tiramisu dipakein bubuk saat mau makan.hahahaha....”
E : “ oh tadi perasaan waiternya bawa itu bubuk kok....apa pikiran gw aja yang lagi melayang.hahhahhaa....”
Alhasil, akhirnya tiramisu itu tidak dimakan oleh Yogi. Sementara meeting dilanjutkan, aku masih tetap tertawa sendiri...Mengapa aku bisa begitu bodoh dan ceroboh....Atau karena aku memang ngidam coklat sampe segitunya, aku juga tidak tau...Akhirnya aku hampir sama sekali tidak bisa mengikuti meeting itu.
Pesan Moral:
1. Kalau mau meeting sebaiknya jangan di tempat remang-remang untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan....hehhehehe.....
2. Bereksperimen makanan ada batasnya…..