Rabu, 14 Desember 2011

Resensi Film - Inside Job

Tanggal 15 September 2008, Lehman Brothers, salah satu investment bank terbesar di US dan dunia mengumumkan kebangkrutan. Tidak lama kemudian diikuti oleh Merrill Lynch yang juga sebagai salah satu investment bank terbesar dijual ke pihak lain serta AIG, salah stu perusahaan securitized insurance juga pailit. Hal ini membuat kepanikan kepanikan pasar dan menyebabkan krisis global di akhir tahun 2008. Harga-harga saham menurun drastis, tingkat pengangguran meningkat, hutang meningkat dan akhirnya banyak masyarakat yang mengalami kemiskinan.

Film ini mengisahkan bagaimana krisis global tahun 2008 terjadi dalam lima bagian, yaitu:

1.    How We Got There  

Setelah terjadi masa depresi pada tahun 1930, pemerintah Amerika memperketat peraturan di industri keuangan khususnya larangan bagi perbankan untuk melakukan kegiatan spekulasi yang high risk dari uang nasabahnya. Namun seiring dengan berkembang pesatnya industri keuangan di tahun 1980an, terjadi beberapa modifikasi peraturan keuangan yang salah satunya mulai membolehkan kegiatan yang bersifat high risk dan pada akhir era 1980 an mulai banyak institusi keuangan yang hancur.  

Tahun 1990 an banyak perusahaan keuangan yang melakukan konsolidasi sehingga menjadi besar. Dengan adanya perusahaan keuangan raksasa, secara nature industrinya, jika terjadi kesulitan ekonomi, perusahaan keuangan akan sulit untuk ditutup karena berdampak sistemik pada seluruh sektor industri lainnya. Disisi lain, perusahaan raksasa memang akan menghasilkan return yang besar pula. Salah satu contoh merger yaitu Citigroup yang merupakan gabungan antara Citicorp dengan Travelers.

Akhir era 1990 an, terjadi lagi krisis yang disebabkan penurunan saham-saham perusahaan internet dimana investment banks juga memiliki portfolio disana. Akhirnya pada tahun 2002, 8 investment bank membayar kerugian sebesar USD 1,4 triliun dan berjanji untuk memperbaiki perilaku bisnisnya.

Namun yang menjadi penyebab utama dari krisis global tahun 2008 adalah transaksi derivatif yang sangat banyak di Amerika yang mencapai USD 50 triliun. Derivatif mulai berkembang di akhir tahun 1990 dan memiliki resiko yang tinggi serta membuat pasar menjadi tidak stabil. Mengingat transaksi ini sangat banyak dan beresiko, maka diusulkan untuk dibuat aturan khusus. Namun mengingat transaksi ini juga meraup keuntungan yang sangat besar dan banyak kepentingan terlibat didalamnya, akhirnya transaksi derivatif tidak diatur dalam peraturan pemerintah Amerika.

Transaksi derivatif yang paling banyak dan tinggi pertumbuhannya adalah terkait subprime mortgage securities dan CDO (Collateralized Debt Obligation). Kalau dahulu, jika seseorang ingin meminjam uang untuk KPR, maka pemberi pinjaman (Lender) tentunya akan melakukan analisis mendalam karena terkait default risk. Pada akhirnya hanya debitur yang layaklah yang akan mendapat pinjaman.

         

Namun dengan perkembangan transaksi ekonomi yang semakin kompleks dengan adanya kemajuan transaksi derivatif, transaksi inimulai mengikuti trend baru. Lender dapat menjual hipotiknya ke Investment Bank. Kemudian Investment Bank akan menggabungkan ribuan hipotik dari Lender beserta aset-aset lain untuk dijadikan jaminan baru. Jaminan baru ini digunakan Investment Bank untuk mengeluarkan obligasi yang disebut CDO (Collateralized Debt Obligation) ke Investor. Dengan demikian, secara tidak langsung sebenarnya Investor mendapat uang dari Home Buyer. Untuk meyakinkan Investor, Investment Banking membayar agen pemeringkat untuk menilai dan mengevaluasi credit rating CDO-nya adalah AAA.   

Dengan skema baru tersebut, Lender memindahkan resikonya ke Investment Bank dan meindahkannya lagi ke Investor sehingga Lender memiliki kecenderungan untuk terus memberikan pinjaman yang beresiko tinggi (subprime) karena mendapat keuntungan yang lebih besar dan resikonya dapat dipindahkan. Investment Bank juga terus meningkatkan CDO nya karena mendapat return tinggi dan tentunya agen pemeringkat juga mendapat keuntungan dari Investment Bank. Dengan skema ini, pinjaman hipotik mengalami pertumbuhan signifikan sampai empat kali lipat.

2.    The Bubble (2001-2007) 

Skema baru tersebut membentuk suatu gelembung keuangan yang besar karena asetnya memang bersifat nyata, yaitu rumah. Sampai dengan tahun 2007 harga rumah meningkat sampai dua kali lipat karena banyaknya demand, denmikian juga dengan subprime mortgage meningkat dari 30 milyar menjadi 600 milyar dalam 10 tahun terakhir.

Peningkatan transaksi tersebut tentunya semakin meningkatkan resiko keuangan. Beberapa pihak sudah mengingatkan Allan Greenspan, Chief FED namun dia tetap tidak merubah pendapatnya untuk mengatur transaksi tersebut karena menghasilkan keuntungan berlipa dan SEC juha tidak melakukan investigasi. Investment Bank semakin banyak membeli pinjaman untuk membuat CDO. Bahkan peraturan rasio leverage dinaikkan dari 3:1 menjadi 33:1 melalui lobi-lobi Investment Bank ke SEC.

Transaksi derivatif bentuk lainnya berupa jual beli pertukaran kredit dilakukan oleh AIG yang dinamakan CDS (Credit Default Swap) dan tidak diatur pemerintah. Investor yang memiliki CDO membeli pertukaran kredit ke AIG dengan membayar premi yang cukup besar. Namun jika CDO tersebut menjadi buruk, maka AIG akan membayar kerugiannya. Selain itu banyak spekulan yang juga membeli pertukaran kredit ke AIG dari CDO yang tidak dimiliknya. Hal ini karena CDO mendapat peringkat AAA dari beberapa agen pemeringkat di US.

Kalau dahulu, seseorang mengasuransikan rumah miliknya sendiri, sekarang dengan transaksi derivatif banyak orang yang mengasuransikan rumah seseorang. Akibatnya, jika rumah tersebut terbakar, keruagian yang terjadi menjadi jauh lebih besar karena banyak orang terlibat.

Goldman Sach, salah satu Investment Bank terbesar pula, sudah menyadari lebih awal akan CDO yang high risk dan “junk”. Oleh sebab itu pada tahun 2006, Goldman Sach menjual CDO-nya ke pihak lain dan investor lain yang mayoritas adalah dana pension sebagai “safe” investment karena mendapat peringkat AAA. Kemudian CDO membeli pertukaran kredit ke AIG senilai 22 milyar untuk bertaruh dengan CDO yang tidak dimilikinya. Namun jika CDO buruk, maka AIG harus membayar kerugiannya. Karena merasa AIG juga akan mengalami kesulitan, akhirnya Goldman Sach mengasuransikan dirinya dengan membayar premi USD 150 juta ke AIG.

Begitu menguntungkannya transaksi ini, AIG memberanikan diri membayar bonus besar kepada pegawainya atas keuntungan jangka pendek yang diterimanya. Tujuannya agar memberikan insentif untuk terus mencari dan melakukan transaksi derivatif lebih banyak.

3.    The Crisis 

Melihat semakin meningkatnya resiko keuangan yang dijelaskan diatas, banyak sekali peringatan yang dilontarkan ke pemerintah termasuk FBI seperti inflasi yang terus meningkat, banyaknya dokumen pinjaman palsu dan sebagainya.

Akhirnya tahun 2007-2008 penyitaan rumah meningkat sangat tajam. Akibatnya Lender tidak bisa menjual pinjamannya ke Investment Banks. Pasar CDO mengalami kehancuran karena pinjaman, CDO dan real estate tidak bisa dijual.
Tahun 2008, Bear Stearns, salah satu Investment Bank terbesar, kehabisan uang dan dibeli oleh JP Morgan Chase. Fannie Mae & Freddie Mac, perusahaan peminjaman uang raksasa juga diambil alih pemerintah. Merrill Lynch mengalami kegagalan dan dibeli oleh Bank of America. Lehman Brother mengumumkan pailit. Kehancuran Investment Bank tersebut mempengaruhi pasar lain seperti commercial paper yang diperlukan oleh banyak perusahaan untuk membayar pengeluaran seperti gaji. Akibatnya bisnis terhenti. AIG juga hampir mengalami pailit, namun diambil alih oleh pemerintah dengan bantuan USD 700 miliar dan AIG membayar Goldman Sach sebesar USD 61 miliar atas transaksi sesuai perjanjian kedua pihak.

Dampak krisis di US ini merembet dan membesar sampai tingkat global. Tingkat pengangguran di US dan Eropa meningkat 10%, masyarakat membatasi konsumsi mereka dan akhirnya supply mengalami penurunan sehingga banyak PHK dan Negara-negara yang melakukan ekspor ke US juga terkena dampaknya.

4.    The Accountability

Krisis ekonomi global membuat masyarakat dan Negara mengalami banyak kerugian, Namun hal tersebut sepertinya tidak terlalu berdampak pada pemimpin dan petinggi Investment Bank atau petinggi lain yang terkait. Hal ini dikarenakan mereka sudah mendapatkan bonus yang sangat besar sebelum terjadi krisi. Bonus tersebut diberikan untuk merangsang pembuatan transaksi derivatif yang menguntungkan. Sehingga ketika terjadi pailit, harta mereka masih tetap aman dan tanpa ada tuntutan hukum yang berarti. Selain itu, beberapa CEO tetap dipertahankan untuk menjadi konsultan.

Selain itu juga terjadi conflict of interest di kalangan akademisi ilmu ekonomi. Banyak akademisi dan professor yang turut andil dan menjadi bagian dalam deregulasi dan penentuan kebijakan. Banyak akademisi yang dibayar mahal oleh Investment Bank untuk menceritakan kisah-kisah baik khususnya transaksi derivatif dan securitization food chain sehingga kedua pihak mendapat keuntungan yang sangat besar. Selain itu mereka juga digunakan untuk menjadi konsultan di beberapa institusi keuangan.

5.    Where Are We Now

Peningkatan industri keuangan membuat perubahan besar di US. Masyarakat menjadi tidak seimbang. Setelah krisis, banyak pekerja US yang dipecat karena perusahaan lebih memilih pekerja dari luar US yang lebih murah seperti China.

Namun teknologi semakin berkembang pesat di US sehingga membutuhkan tenaga berpendidikan tinggi. Tetapi sayangnya, pendidikan di US sangat mahal dan pemerintah mengurangi subsidinya sehingga supply tenaga kerja di industri teknologi juga tidak banyak. Pajak juga dikurangi sehingga penerimaan negara juga berkurang. Pada akhirnya hanya orang-orang yang sangat kaya yang diuntungkan (sekitar 1% orang kaya) sementara kelas menengah semakin tertinggal.

Obama sebelum terpilih menjadi presiden terus melakukan kritik kepada Wall Street atas ketamakannya. Namun ketika menjadi presiden, kebijakan yang diambilnya cenderung tidak merubah signifikan atas pola kerja dari Wall Street. Masih banyak kasus-kasus saat krisis ekonomi tidak diusut tuntas  dan bahkan banyak penasehat dan jabatan penting masih dikuasai oleh orang lama yang terlibat dalam krisis ekonomi tahun 2008. Dan mereka selalu berdalih bahwa krisis tersebut tidak akan terulang kembali.

Kesimpulan

Krisis ekonomi global yang terjadi tahun 2008 disebabkan adanya transaksi derivatif berkaitan dengan securitization food chain. Ketamakan beberapa pihak untuk mengambil keuntungan berlebih dengan melakukan segala cara seperti melobi dan membayar sejumlah uang untuk mendukung transaksinya. Peningkatan besar industri keuangan saat ini justru mengabaikan masyarakat, merusak sistem politik yang pada akhirnya menuju kehancuran ekonomi.

1 komentar: